
Evolusi Major Arcana: Dari Klasik Hingga Psikologis
Tiga Kelompok Tujuh Kartu
Melanjutkan konsep "Perjalanan Sang Bodoh" yang telah dibahas sebelumnya, para praktisi tarot modern sering kali membagi 21 kartu Major Arcana (di luar kartu "The Fool") menjadi tiga kelompok besar yang masing-masing terdiri dari tujuh kartu. Pembagian yang dikenal sebagai Three Septenaries ini menggambarkan tiga fase utama dalam perkembangan psikologis dan spiritual manusia. Kelompok pertama (kartu 1 hingga 7) melambangkan fase kesadaran fisik, ego, dan sosialisasi di dunia material. Kelompok kedua (kartu 8 hingga 14) mewakili perjalanan ke dalam diri untuk memahami moralitas, intuisi, dan hukum alam. Sementara kelompok ketiga (kartu 15 hingga 21) melambangkan fase transendental, di mana manusia menghadapi ketakutan terdalamnya sebelum akhirnya mencapai keutuhan spiritual.
Kontribusi Pamela Colman Smith
Perkembangan visual Major Arcana juga menyimpan catatan sejarah yang menyoroti kontribusi penting seorang seniman yang sempat terlupakan. Dek Tarot yang paling populer digunakan di seluruh dunia saat ini adalah dek Rider-Waite-Smith (RWS) yang diterbitkan pada tahun 1909. Ilustrasi ikonik pada kartu-kartu Major Arcana tersebut dilukis oleh seorang seniman perempuan bernama Pamela Colman Smith. Meskipun karya seni visualnya yang kaya akan simbolisme menjadi standar interpretasi tarot modern, namanya sempat diabaikan selama puluhan tahun karena dek tersebut awalnya hanya dinamai "Rider-Waite" (merujuk pada penerbit Rider dan penggagas konsepnya, Arthur Edward Waite). Baru pada beberapa dekade terakhir, nama "Smith" disematkan secara resmi untuk menghargai kontribusi besarnya.
Kartu yang Disalahpahami
Selain kartu "Death" yang telah diulas sebelumnya, terdapat beberapa kartu Major Arcana lain yang maknanya kerap mengalami pergeseran interpretasi. Kartu "The Lovers" (Para Pecinta), misalnya, pada dek-dek klasik abad pertengahan sebenarnya lebih menekankan pada tema pilihan sulit atau persimpangan jalan moral, bukan sekadar romansa cinta seperti anggapan populer saat ini. Begitu pula dengan kartu "The Devil" (Iblis) yang sering kali memicu kekhawatiran saat muncul dalam sesi pembacaan. Dalam pendekatan psikologis, kartu ini tidak melambangkan kekuatan mistis jahat, melainkan representasi dari keterikatan yang tidak sehat, ketergantungan material, atau batasan pikiran yang sebenarnya diciptakan oleh diri sendiri.